Monday, April 6, 2009

Mengendali Hawa Nafsu

Imam Al-Ghazali dalam bukunya Tentang Mengendalikan Hawa Nafsu menguraikan tentang pengendalian hawa nafsu ini.

Nafsu dibagi menjadi empat bahagian, iaitu
1.keserakahan nafsu terhadap harta benda.
2.nafsu amarah akan membakar dan membutakan hati,
3. kesenangan duniawi mendorong nafsu
4. nafsu syahwat.

1. Imam Al-Ghazali mengajak orang yang sudah kaya mensyukuri kekayaannya. Jika engkau menjadi orang kaya, maka syukurilah. Jika dirimu berkedudukan, manfaatkanlah kekuasaan dan kedudukanmu untuk memakmurkan rakyat. Jangan sekali-kali memanfaatkan kuasa untuk mengumpul harta benda sampai tak habis dimakan tujuh keturunan.

2. Mengendalikan nafsu amarah yang ada dalam diri sendiri juga tidak kurang pentingnya. Namun, yang lebih penting adalah menghadapi amarah dan kezaliman orang lain. Oleh sebab itu, berusaha sabar dalam menghadapi kemarahan dan kezaliman orang lain.

Cara yang paling baik dalam hal ini ialah berusaha sabar dan berlapang dada, suka memaafkan dan bermurah hati. Sesungguhnya ada tiga akhlak yang sangat terpuji dan harus engkau miliki. Yaitu, memaafkan kezaliman orang lain, bermurah hati terhadap orang yang bakhil dan menolong orang yang menyalahi peribadimu.

Betapa pentingnya menahan rasa dendam dan amarah. Marah itu adalah nafsu dan nafsu itu dimasuki syaitan, sehingga akibat dari kemarahan selalu buruk dan merugikan. Oleh karena itu, jika suatu ketika engkau menjumpai seseorang dan marah dengan zalim, maka janganlah engkau balas dengan kemarahan pula. Api tak boleh dilawan dengan api. Jika engkau lawan dengan kemarahan pula, maka petaka yang terjadi, api nafsu semakin berkobar. Walaupun engkau perlakukan dengan zalim dan dengan kemarahannya, maka untuk sementara waktu engkau hadapi dengan tenang.

3. Manusia selalu diingatkan agar tidak terjerumus akan kesenangan duniawi, karena hal itu akan mendorong nafsu menjadi liar. Kesenangan duniawi itu racun pembunuh yang mengalir dalam urat. Ke luar dari hati, ketakutan, kegundahan, ingat kepada mati dan huru-hara di hari kiamat. Inilah yang dinamakan hati mati.

Syaitan selalu menggoda setiap manusia setiap masa dan ketika. Ini sesuai dengan janjinya di hadapan Allah, ketika Iblis keluar dari Surga.

Syaitan itu pandai, diwarnainya dunia ini dengan harta, kuasa dan wanita. Dengan cara apa pun dilakukan orang mengejar kuasa. Orang berlumba mengejar kuasa, tanpa memeperdulikan kaedah yang di ajarkan agama, apalagi norma-norma pekerjaan yang sebenarnya.

Setelah menduduki kuasa, seseorang akan mudah memperoleh kekayaan. Dengan wang dan kekayaan itu seseorang pun akan mudah hidup bersenang-senang dengan perempuan yang bisa "dibelinya".

Bagi orang yang lemah iman dan akalnya dapat dikalahkan dengan nafsu, meskipun ilmunya banyak dan ia sebagai ulama, tetap saja hatinya sibuk memikirkan harta duniawi. Dan -- maaf saja -- dengan menjual syariat, menjual ayat-ayat Al Quran lalu memutar-balikkan kebenaran dilakukannya demi harta dan kenikmatan duniawi.

4. Imam Al-Gazhali mengingatkan bahwa syaitan menggoda manusia di dunia ini melalui seribu cara. Dan yang paling berbahaya ialah harta dan wanita. Setan telah memasang perangkap godaannya melalui harta dan wanita. Tidak sedikit manusia yang hancur kehidupannya hanya karena memburu harta dan gagal. Banyak orang yang rosak hidupnya hanya karena mencari kesenangan dan memburu wanita.

Dalam ajaran Islam, nafsu itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dijaga dan di kawal.

1 . Banyakkan berpuasa
2. Jangan melihat sesuatu yang boleh menaikkan nafsu
3. Amlakan sifat sabar dan berlapang dada,
4. Jangan berada di tempat atau situasi yang boleh membantu nafsu
5. Jangan lah makan terlalu kenyang
6. Lakukanlah amalan kebajikan seperti sedekah jariah serta belajar ilmu agama.
7 Lakukan sesuatu denagan ikhlas dan dengan bacaan Bismillah.

Saturday, April 4, 2009

Kelebihan Ibadat Disaat-saat Hura Hara

Daripada Ma’qil bin Yasar ra. berkata Rasulullah bersabda: "Beribadat di saat-saat huru hara (dunia kacau bilau) adalah seperti berhijrah kepadaku". (Riwayat Muslim)

Keterangan:
Orang yang mampu beribadat dan menunaikan kewajipan agamanya di saat-saat yang penuh dengan huru hara dan gangguan dari segenap penjuru, dan mampu mengingati Allah swt. di saat-saat orang lain lupa dan di sibukkan dengan perkara-perkara yang melalaikan. Mereka akan diberikan pahala seperti pahala hijrah yang telah dilakukan oleh kaum Muhajirin di zaman Rasulullah saw. Mudah-mudahan kita termasuk di kalangan mereka yang mampu beribadat walaupun di dalam keadaan dan suasana yang sangat menyibukkan, dan mudah-mudahan kita mendapatkan pahala besar yang telah dijanjikan oleh Rasulullah saw. tadi.

Seperti Memegang Bara Api

Daripada Anas r.a. bekata, Rasulullah saw. bersabda, "Akan datang kepada umat ku suatu zaman di mana orang yang berpegang kepada agamanya laksana menggenggam bara api”. (Riwayat Tirmizi)

Keterangan:
Yang dimaksudkan di sini ialah zaman yang sangat mencabar sehingga sesiapa yang hendak mengamalkan ajaran agamanya ia terpaksa menghadapi kesusahan dan tentangan yang sangat hebat. Kalau ia tidak bersungguh-sungguh, nescaya agamanya terlepas dari genggamannya. Ini adalah disebabkan suasana disekelilingnya tidak membantu untuk ia menunaikan kewajiban agamanya, bahkan apa yang ada disekelilingnya mendorong untuk membuat kemaksiatan dan perkara-perkara yang dapat meruntuhkan aqidah dan keimanan atau paling kurang menyebabkan kefasiqan. lni juga bermaksud, orang Islam tersepit dalam melaksanakan tuntutan agamanya di samping tidak mendapat kemudahan.

Wednesday, April 1, 2009

Lelaki Dan Kepompong Kupu-kupu

Seorang lelaki telah menemui kepompong kupu-kupu di tengah jalan. Ada lubang kecil pada kepompong itu. Dia duduk mengamati lubang itu dan melihat ada kupu-kupu cuba berjuang untuk membebaskan diri melalui lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti mencuba. Ia kelihatan telah berusaha sedaya upaya dan kini tidak mampu untuk melakukan lebih jauh lagi. Akhirnya lelaki tersebut mengambil keputusan untuk membantu kupu-kupu tersebut. Dia mengambil gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayapnya berkeriut. Lelaki tersebut terus mengamatinya sambil berharap sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menampung tubuh kupu-kupu itu, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Namun, harapannya hanya tinggal harapan.

Hakikatnya, kupu-kupu itu terpaksa menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap berkeriut dan tidak sempurna. Dia tidak pernah mampu terbang.

Lelaki yang membantu kupu-kupu tersebut tidak mengerti bahawa kupu-kupu tersebut perlu berjuang dengan daya usahanya sendiri untuk membebaskan diri dari kepompongnya. Lubang kecil yang perlu dilalui kupu-kupu tersebut akan memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sehingga dia akan siap terbang dan memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita.Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa ranjau dan perjuangan, kita mungkin akan jadi lemah dan tak tahan ujian. Kita mungkin tidak kuat untuk menghadapi rintangan bagi mencapai cita-cita dan harapan yang kita idamkan.

Kita mungkin tidak akan pernah dapat....terbang... jauh. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kita memohon kekuatan dan keteguhan hati.Dan Tuhan memberi kita dugaan dan ujian untuk membuat kita kuat dan cekal..

Kita memohon kebijaksanaan; Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana dan matang.

Kita memohon kemakmuran; Dan Tuhan memberi kita akal dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya bagi mencapai kemakmuran.

Kita memohon cinta; Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.

Kita memohon kemurahan rezeki dan kebaikan hati; Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita

Adakah jika saya tidak memperoleh apa yang saya idamkan, bererti bahawa saya tidak mendapatkan segala yang saya inginkan ?

Kadang-kadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak dapat melihat hikmah disebaliknya, bahkan tidak mahu menerima rencana Tuhan, padahal itulah yang terbaik untuk kita.

Saturday, March 28, 2009

Allah Sentiasa Mendengar Rintihan Hamba-HambaNya

Keluhan orang yang berdosa karena dosa-dosanya, Tuhan amat suka. Terlebih lagi gugurnya air mata saat menangis mengenang dosa-dosanya, itu dapat memadamkan api Neraka.

Takutnya kepada Allah kalau-kalau berbuat salah atau takut tidak diampuni dosanya adalah ibadah. Sedangkan orang yang beribadah belum tentu jadi ibadah. Karena yang namanya ibadah mestilah sampai terasa dan dihayati oleh hati dalam ibadahnya, penghayatan itulah kerja hati.

Kalau fisik saja yang nampak beribadah, tapi hati tidak beribadah, maka tidak ada arti apa-apa dengan ibadahnya. Tuhan tidak pandang rangka, tapi pandang isinya. Rangka cantik bagaimanapun, jika tidak ada isi tidak ada arti apa-apa.

Rasa berTuhan dibawa ke mana-mana ini juga adalah ibadah batin. Pahalanya senantiasa mengalir selagi ada rasa itu. Rasa hamba dibawa ke mana-mana,rasa lemah dan rasa tiada kuasa, adalah juga ibadah batin. Rasa hamba itu, itulah sifat hamba yang sebenarnya. Janganlah sifat hamba itu ditukar dengan sifat tuan atau ketuhanan. Itu sombong namanya. Dia ambil pakaian Tuhan dan dipakainya. Allah sangat murka.

Sifat ketuanan itu salah satunya ialah bangga diri, Allah membencinya. Siapalah kita manusia ini? hendak rasa bangga? Tak akan kita tidak sadar lemahnya diri manusia ini. Mengapa pula kita merasa ada kuasa dan bangga diri? Ini sikap orang yang tidak sadar akan diri.

Tak akan kita tidak sadar, bahwa kita ini dhaif dan lemah. Setiap saat kita perlu bantuan. Bantuan oksigen, bantuan kesehatan, bantuan kerehatan. Bantuan-bantuan yang diperlukan itu siapa yang empunya? Tak akan kita tidak tahu dari mana kita dapat.

Kalau kita sadar ini semuanya di dalam fikiran setiap masa, atau di dalam perasaan, itulah dia ibadah. Ibadah tanpa perbuatan, ibadah batin atau ibadah rohaniah namanya. Perasaan itu atau kesadaran itu adalah diberi pahala.

Tuesday, March 24, 2009

Orang Meminum Khamar

Daripada Abu Malik Al-Asy'ari r.a. bahawasanya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya ada sebahagian dari umat ku yang akan meminum khamar dan mereka menamanya dengan nama yang lain (mereka meminum) sambil dialunkan dengan bunyi muzik dan suara artis-artis. Allah swt. akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi (dengan gempa) dan Allah swt. akan merobah mereka menjadi kera atau babi". (Riwayat Ibnu Majah)

Keterangan:

Maksudnya, akan ada di kalangan orang Islam ini yang meminum khamar dan mereka mengatakan bahawa yang diminum itu bukanlah khamar. Ia hanyalah sejenis minuman yang dapat menyegarkan badan atau yang dapat menghilangkan dahaga. Mereka akan memberikan suatu nama kepada minuman ini yang menunjukkan bahawa ia bukan khamar, tetapi sebenamya ia adalah khamar yang telah diharamkan oleh syara'.

Kemudian, menjadi kelaziman pula, suasana mabuk itu akan disertai dengan alunan muzik dan juga nyanyian artis-artis kenamaan. Rasulullah saw. menerangkan bahawa golongan ini akan ditimpa gempa bumi atau tubuh badan mereka diubah kepada bentuk kera atau babi. Sangat benar sabdaan Junjungan Besar Nabi saw. ini. Gempa bumi demi gempa bumi yang berlaku di beberapa tempat di dunia ini sebagai satu seksaan daripada Allah swt. dan jikalau golongan ini belum sampai keperingkat diubah bentuk badan mereka menjadi kera dan babi tetapi perangai dan cara hidup mereka sudah banyak menyerupai perangai dan cara hidup kera dan babi.

Thursday, March 19, 2009

Hakikat Ikhlas - Sebab Musabbab

Allah membuat aturan, adat, sebab dan cara untuk orang yang ingin mencari Dia. Kebanyakan perkara terjadi menurut aturan. Tetapi kadang-kadang KuasaNya memecah aturan itu. Dia mencipta aturan dan adat yang baik. DijadikanNya Mukjizat yang mencarik adat dan kebiasaan.

Wahai anda yang diperangkap oleh sebab;

Jangan sangka Pembuat sebab itu telah mati. Pembuat sebab itu menzhohirkan apa yang Ia Kehendaki. Maha KuasaNya boleh melanggar semua sebab. Tetapi biasanya dibiarkanNya pelaksanaan KehendakNya menurut sebab agar si pencari boleh menyusuli tujuan kehendak mereka.

Kalau tidak ada sebab, jalan apa si pencari hendak ikut??? Mestilah ada "sebab" yang nyata di perjalanan yang diturutinya. "Sebab" itu adalah salutan pada mata; kerana bukan semua mata dapat memerhati KerjaNya. Perlulah mata yang dapat menembus di sebalik sebab dan membuang salutan itu seluruhnya. Dengan itu dapatlah dilihat Pembuat Sebab di alam yang tidak ada ruang; dan kelihatanlah semua tindakan dan usaha kita adalah "cakap kosong belaka".

Setiap yang baik dan yang buruk datang dari Pembuat Sebab. "Sebab" dan "cara" tidak ada apa-apa; kosong belaka. Ibarat sangkaan adanya hantu menghalang perjalanan Raja, agar kejahilan memerintah untuk seketika.

Kebanyakan orang memahami sebab ini sebagai sesuatu yang merujuk kepada usaha dan tadbir diri.
Sedikit orang boleh memahami sebab ini adalah sebagai suatu limpah kurnia dari Allah untuk dirinya; dan hanya ada beberapa orang sahaja yang benar-benar mengerti bahawa sebab itu adalah MusabbabNya.

- Salik memang tidak pandang kepada amal dan wiridnya;
- Demikian juga Ulama tidak pandang kepada ilmu dan kepandaian dirinya;
- Tetapi mereka masa merasai dan menilik kepada Kewujudan dirinya;
-- Mata mereka yang melihat,
-- Telinga mereka yang mendengar;
-- Mulut mereka yang berkata-kata;
-- Tangan mereka yang memegang;
-- Lidah mereka yang merasa;
-- Kaki mereka yang melangkah.
--- Sebab melihat kerana ada mata,
--- Sebab mendengar kerana ada telinga

Dan seterus-seterusnya yang menunjukkan adanya kesedaran pada wujud diri itu. Menghijabkan daripada Wujud Yang Hakiki.

Ini bukanlah soal Mengenal Allah apabila hijab itu tersingkap, tetapi adalah soal MengenalNya dalam hijab itu sendiri..........Kesempurnaan adab itu ialah memerlukan hijab itu dipelihara.........

Untuk santapan "jiwa yang memikir dan membuat kesimpulan". Jiwa yang bercahaya dan dapat menjadikan sesuatu yang lain bercahaya.

Sheikh Ibni Athoillah As-Kandari ada menegaskan keajaibannya pada orang yang tidak dapat menanggapi Wujud Allah dengan kata-katanya;
1. Bagaimana dapat dibayangkan bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, pada hal Dia(Allah) yang menzhohirkan segala sesuatu;
2. Bagaimana dapat dibayangkan bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, pada hal Dia(Allah) yang nampak zhohir pada sesuatu;
3. Bagaimana dapat dibayangkan bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, pada hal Dia(Allah) yang nampak dalam tiap-tiap sesuatu;
4. Bagaimana dapat ditutupi[dihijab] oleh sesuatu, pada hal Dia[Allah] yang nampak pada tiap segala sesuatu.
5. Bagaimana akan dapat dibayangkan bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, pada hal dia[Allah] yang ada zohir sebelum adanya sesuatu;
6. Bagaimana akan dapat dibayangkan bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal dia(Allah) lebih jelas nampak dari segala sesuatu;
7. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, pada hal dia(Allah) yang Esa[Tunggal] yang tidak ada di sampingnya sesuatu apa pun.
8. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, pada dia(Allah) yang lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.
9. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahawa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal andaikan tidak ada Allah, nescaya tidak akan ada segala sesuatu.
10. Alangkah ajaibnya [Sungguh sangat ajaib] bagaimana nampak wujud yang di dalam 'adam [tidak ada]. Atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur di samping zat yang bersifat Qidam.

P.S: Sebarang kesamaran dan kemusykilan sebaiknya dirujuk kepada seorang mursyid....

Tuesday, March 17, 2009

Sabda Rasulullah SAW tentang Akhlak

Untuk keamanan, kebahagiaan dan kedamaian hidup di dunia dan Akhirat, manusia perlu model atau contoh untuk diikuti. Justeru manusia, walaupun telah ALLAH bekalkan fitrah ingin mencintai dan dicintai tidak akan dapat melakukannya dengan sempurna jika tidak ada contoh. Begitulah rahmat dan kasih sayang ALLAH. Sentiasa menunjukkan jalan-jalan keselamatan buat hamba- hamba-Nya. Tinggal lagi apakah manusia itu mahu atan tidak mahu mencontohinya, itu sahaja.

Maka atas dasar itu dengan rahmat ALLAH, Dia telah mengutuskan seorang manusia bernama Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul-Nya di atas muka bumi ini 1400 tahun yang lampau. ALLAH telah lengkapkan Rasul itu dengan sifat yang sempurna lahir dan batin. ALLAH telah memelihara peribadinya daripada sebarang kesalahan dan cacat-cela, agar dia menjadi contoh yang agung kepada manusia lain.

Dengan segala pemeliharaan itu maka jadilah Rasulullah SAW manusia yang paling tinggi akhlaknya. Sama ada akhlak dengan ALLAH mahupun akhlak sesama manusia.

Oleh itu tidak hairanlah jika ALLAH sendiri memuji Rasulullah SAW dalam Al Quran dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) mempunyai akhlak yang sangat agung." (Al Qalam: 4)

Al hasil, terbentuklah Rasulullah SAW itu sebagai insan kamil yang menjadi lambang segala kebaikan. Nabi Muhammadlah manusia yang paling sempurna. Seluruh himpunan sifat baik telah dipakaikan oleh ALLAH pada diri Rasulullah SAW. Itulah gambaran betapa kasih dan sayangnya Rasulullah SAW kepada seluruh makhluk.Bukan sahaja kepada manusia bahkan juga kepada binatang. Bukan sahaja kepada orang Islam tetapi juga kepada yang bukan Islam. Maka atas dasar itulah ALLAH SWT telah menegaskan dalam Al Quran bahawa kedatangan Rasulullah SAW itu adalah sebagai pembawa rahmat.

Firman ALLAH:
" Dan tidak Kami utuskan engkau (Muhammad) melainkan untuk rahmat kepada sekalian alam." (Al Anbia: 107) .

Rasulullah SAW juga pernah bersabda:
"Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia." (Riwayat Malik)

Di sini saya hanya ingin menggambarkan tentang kasih sayang, iaitu satu aspek daripada akhlak Rasulullah SAW yang sangat perlu untuk manusia. Setidak-tidaknya untuk keselamatan mereka di dunia walaupun tidak di Akhirat. Kasih sayang Rasulullah SAW terhadap manusia tidak ada tandingannya. Mari kita lihat bukti bagaimana dan betapa kasih sayang Rasulullah SAW melalui dua sudut.

Jika kita membaca Al' Quran dan meneliti Hadis Rasulullah SAW, maka kita akan dapati betapa Rasulullah SAW itu sangat pengasih sekalipun kepada anak kecil ataupun binatang. Di antara ayat Quran yang menunjukkan betapa tingginya rasa kasih Rasulullah SAW itu ialah sewaktu ALLAH SWT berfirman:

"Telah datang kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At Taubah: 128)

Dalam ayat yang lain ALLAH SWT telah berfirman:
"Maka dengan rahmat ALLAH-lah kamu dapat berlaku lemah-lembut dan kasih sayang pada mereka. "(Ali Imran: 159 )

Allah berfirman lagi:
"Dan jikalau kamu berkasar dan berkeras hati nescaya mereka akan menjauhkan diri darimu. "(Ali Imran: 159)

Di antara Hadis yang menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Rasulullah SAW ialah:
"Barang siapa yang tidak mengasihi manusia, dia tidak dikasihi ALLAH. "(Riwayat At Termizi)

"Kasihilah siapa sahaja yang ada di bumi nescaya akan mengasihi kamu siapa-siapa sahaja (malaikat) yang di langit." (Riwayat Abu Daud)

"Sebaik-baik manusia ialah orang yang memberi manfaat pada manusia (termasuk meratakan kasih sayang).
Sebaik-baik manusia ialah mereka yang paling baik akhlaknya (kasih sayang kepada orang lain)." (Riwayat At Tabrani)

"Berbaktilah kepada kedua ibu bapa kamu, maka akan. berbakti anak-anak kamu kepada kamu (termasuk memberi kasih sayang)." (Riwayat Al Hakim)

"Sesungguhnya orang yang paling hampir dengan tempatku di kalangan kamu ialah yang paling cantik akhlaknya, mereka menghormati orang lain dan mereka senang bermesra dan dimesrai.
Orang Mukmin itu ialah yang mudah mesra dan dimesrai, dan tiada kebaikan pada mereka yang tidak boleh bermesra dan dimesrai. Dan sebaik-baik manusia ialah yang banyak memberi manfaat kepada manusia." (Riwayat Al Hakim dan Al Baihaqi)

"Sesiapa yang tidak mengasihi orang kecil kami, sedangkan dia tahu kewajipan sebagai orang besar kami maka bukanlah dia dari golongan kami." (Riwayat Al Bukhari)

"Siapa yang berbuat baik (beri kasih sayang) kepada anak yatim lelaki atau perempuan, adalah aku dan dia di dalam Syurga seperti dua ini (ditunjukkan dua jarinya yang dirapatkan)." (Riwayat Al Hakim)

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. “ (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan At-Tirmidzi )

“Penyebab utama masuknya manusia ke surga adalah bertakwa kepada Allah dan kebaikan akhlaknya. “ ( Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya dari pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” ( Riwayat At-Tirmidzi )

“Saya menjamin sebuah rumah yang paling tinggi tingkatannya di sorga bagi orang-orang yang berbudi pekerti. “ ( Riwayat At-Tirmidzi )

“Sesungguhnya orang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mendapatkan kedudukan yang sama dengan orang yang (rajin) melaksanakan puasa dan shalat malam. “ (Riwayat Abu Dawud)

"Barangsiapa yang menghindari perdebatan dalam keadaan ia bersalah nescaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di sekitar syurga. Barangsiapa yang menghindari perdebatan dalam keadaan ia benar niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di tengah-tengah surga. Dan barangsiapa yang baik akhlaknya niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di ketinggian surga. (HR.Abu Dawud, Ath-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi).

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Manusia yang paling dikasihi Allah ialah orang yang memberi manfaat kepada orang lain dan amalan yang paling disukai oleh Allah ialah menggembirakan hati orang-orang Islam atau menghilangkan kesusahan daripadanya atau menunaikan keperluan hidupnya di dunia atau memberi makan orang yang lapar. Perjalananku bersama saudaraku yang muslim untuk menunaikan hajatnya, adalah lebih aku sukai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ini selama sebulan, dan sesiapa yang menahan kemarahannya sekalipun ia mampu untuk membalasnya nescaya Allah akan memenuhi keredhaannya di dalam hatinya pada hari Qiamat, dan sesiapa yang berjalan bersama-sama saudaranya yang Islam untuk menunaikan hajat saudaranya itu hinggalah selesai hajatnya nescaya Allah akan tetapkan kakinya(ketika melalui pada hari Qiamat) dan sesungguhnya akhlak yang buruk akan merosakkan amalan seperti cuka merosakkan madu.” (Riwayat Ibnu Abi Dunya)


Allah SWT berfirman :“ Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari ( perbuatan-perbuatan ) keji dan mungkar. “ ( Al-Ankabut : 45 )

Subhanallah ! Jika shalat seseorang itu belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka shalatnya baru sebatas olah raga. Ia telah shalat, namun shalatnya belum memperbaiki akhlaknya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman :“ Sesungguhnya Aku menerima shalat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusyuk karena kebesaran-Ku, dan ia tidak mengharapkan anugerah dari shalatnya karena sebagai hamba-Ku (makhluk-Ku), dan ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, mengasihi orang miskin, ibnu sabil, mengasihi anda dan menyantuni orang yang sedang terkena musibah.”Ingatlah, bahwa seluruh aturan syariat Islam terdapat akhlak didalamnya. Dapatkah anda menyaksikan adanya hubungan antara ibadah (shalat) dan akhlak (rendah hati dan kasih sayang)? Ingatlah, jika shalat anda belum memberikan nilai-nilai kasih sayang terhadap sesama manusia, maka anda belumlah memetik buah shalat anda secara sempurna.

"Sesungguhnya di kalangan kamu yang lebih dikasihi ALLAH ialah mereka yang senang bermesra dan dimesrai. Sebaliknya yang paling dibenci ALLAH ialah mereka yang suka menabur fitnah dan memecah belahkan persaudaraan."

Sunday, March 15, 2009

Penyakit Umat-Umat Dahulu

Dan pada Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Umat ku akan ditimpa penyakit-penyakit yang pernah menimpa umat-umat dahulu". Sahabat bertanya, "Apakah penyakit-penyakit umat-umat terdahulu itu?" Nabi saw. menjawab, "Penyakit-penyakit itu ialah (1) terlalu banyak seronok, (2) terlalu mewah, (3) menghimpun harta sebanyak mungkin, (4) tipu menipu dalam merebut harta benda dunia, (5) saling memarahi, (6) hasut menghasut sehingga jadi zalim menzalim".
(Riwayat Hakim)

Keterangan:
Penyakit-penyakit yang disebutkan oleh Rasulullah saw. tadi telah banyak kita lihat di kalangan kaum muslimin di hari ini. Di sana sini kita melihat penyakit ini merebak dan menjalar dalam masyarakat dengan ganasnya. Dunia Islam dilanda krisis rohani yang sangat tajam dan meruncing. Dengan kekosongan rohani itulah mereka terpaksa mencari dan menimbun harta benda sebanyak-banyaknya untuk memuaskan hawa nafsu. Maka apabila hawa nafsu diperturutkan tentunya mereka terpaksa menggunakan segala macam cara dan tipu helah. Di saat itu, hilanglah nilai-nilai akhlak dan yang wujud hanyalah kecurangan, khianat, hasud-menghasud dan sebagainya. Marilah kita merenung maksud hadis ini, dan marilah kita bermuhasabah!

Tuesday, March 10, 2009

Kisah Rasulullah sebagai pengajaran

1) Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menampalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga mahupun untuk dijual.

2) Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

3) Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang."

4) Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada kerana Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.
Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang bererti 'Wahai yang kemerah-merahan')
Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

5) Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?"
Lantas soalan itu dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasihat dia tetap degil, jadi aku pukul dia."
"Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s. a. w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu kepada anak-anakmu?"

6) Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya." Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi ketua keluarga langsung tidak sedikitpun menjejaskan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

7) Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat,pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang,

"Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?"
"Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sihat dan segar."

"Ya Rasulullah...mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergeselan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit..." desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

"Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanankami tidak akan mendapatkannya buat tuan?" Lalu baginda menjawab dengan lembut, "Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?"

"Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak."

8) Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

9) Hanya diam dan bersabar bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

10) Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan yang sudah sebati dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ke tuanan.

11) Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan sebab untuknya merasa lebih dari yang lain, ketika di depan ramai mahupun dalam keseorangan.

12) Pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hinggakan pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.

13) Fizikalnya sudah tidak mampu menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi.Bila ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engaku telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?"

Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

Tuesday, March 3, 2009

Tingkatan Zuhud

Hakikat zuhud ialah menyingkirkan apa apa yang semestinya disenangi dan diingini oleh hati, kerana yakin ada sesuatu yang lebih baik untuk meraih darjat yang tinggi di sisi ALLAH.

Syeikh Abdul Samad Al Palimbani mengatakan bahawa ada rukun kezuhudan.

1. Meninggalkan sesuatu kerana menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi
2. Meninggalkan keduniaan kerana mengharapkan akhirat.
3. Meninggalkan segala sesuatu selain ALLAH kerana mencintaiNYA.

Sebagai contoh untuk zuhud tingkat ini, ada satu kisah seorang sahabat Nabi ternama,Haritsah. Nabi SAW bertanya “Bagaimana kamu hari ini, wahai Haritsah?”

Dia menjawab,”Aku sungguh beriman, ya rasulullah.”

“Apa buktinya?” tanya Nabi. Dia menjawab,”Aku telah memalingkan jiwaku dari dunia ini. Itulah sebabnya di siang hari aku haus dan di malam hari kau terjaga, dan rasa rasanya aku melihat Arasy Tuhanku menghampiriku, dan para penghuni syurga sedang bersuka ria dan para penghuni neraka sedang menangis.” Nabi SAW bersabda,” itulah seorang mukmin yang hatinya telah dibukakan ALLAH. Kau telah tahu Haritsah, maka camkanlah.”

Imam Ahmad Ibnu Hambal mengklasifikasikan tingkatan zuhud yakni :-
1. Zuhudnya orang orang awam ialah meninggalkan hal hal yang haram
2. Zuhud orang orang yang khawas (khusus) iaitu meninggalkan hal yang berlebih lebihan (al fudhul) meskipun barang halal.
3. Zuhud orang Arif iaitu meninggalkan segala sesuatu yang dapat memalingkan daripada mengingati ALLAH.

Al Imam Ghazali pula membahagikan zuhud kepada tiga peringkat yakni :-

1. Tingkat terendah ialah menjauhkan dunia agar terhindar dari hukuman di akhirat
2. Tingkat kedua ialah mereka yang menjauhi dunia kerana ingin mendapatkan imbalan di akhirat
3. Tingkat tertinggi ialah zuhud yang ditempuh bukan lagi kerana takut atau harap, tetapi semata mata kerana cinta kepada ALLAH Ta’ala.

Menurut Syeikh Abdus Samad Al Palimbani,proses kehidupan zuhud itu ada 3 tingkat :-

1. Zuhud Awal
2. Zuhud Menengah
3. Zuhud tingkat Terakhir (muntahi)

Pada semua tahap proses kezuhudan tersebut baik di tingkat permulaan mahupun akhir, para zahid harus membentengi dirinya dengan sifat2 wara’ atau wira/I iaitu menjaga diri dari hal hal yang haram dan perkara perkara subahat serta segala sesuatu yang meragukan

Tingkat Pertama

Zuhud awal (mubtadi’) adalah kezuhudan seseorang yang di dalam hatinya masih ada rasa cinta kepada keduniaan, namun demikian dia bersungguh sungguh melawan hawa nafsunya. Maka, pada tingkat permulaan inilah seorang zahid harus melatih diri untuk bersikap wara’. Wara’ bagi zahid pemula dapat diertikan sebagai sifat dan sikap hidup seseorang yang sentiasa meninggalkan perkara perkara subahat iaitu segala sesuatu yang belum jelas hala atau haram. Sebagaimana di terangkan dalam hadis Nabi SAW

“ Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Tapi di antara keduanya ada perkara yang masih samara samara (subahat). Mengambil yang subahat dapat menyebabkan kita jatuh ke dalam larangan Tuhan”

Tingkat Kedua

Zuhud orang yang hatinya sudah meninggalkan dunia, hatinya tidak lagi tertarik kepada dunia. Pada tahap ini orang orang zahid dituntut meningkatkan sikap wara’nya ke tingkat yang lebih tinggi, iaitu wira’I yang biasa diertikan sebagai sikap hidup meninggalkan segala sesuatu yang meragukan dalam hati, sebagaimana sabda Nabi SAW

“Tinggalkan apa yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukan”

Ini kerana keraguan itu merupakan sebahagian daripada angkara syaitan agar manusia menjadi was was atau syak. Nabi SAW juga pernah mengingatkan, bahawa hakikat dosa sesungguhnya terletak pada apa yang diragukan oleh hati nurani. Oleh itu, baginda mengajarkan manusia agar selalu bertanya dan minta pertimbangan pada hati nuraninya yang benar.

Berdasarkan dua tahap proses kezuhudan tersebut di atas, seorang zahid dapat naik ke tingkat zuhud yang paling tinggi nilainya iaitu zuhud muntahi; zuhudnya golongan orang yang sudah makrifatullah (arifin). Bagi mereka, dunia dan segala isinya ini sudah tidak ada nilainya lagi sehingga segenap hati dan fikiran mereka sudah menghadap ke akhirat. Maka zahid pada tingkat yang tertinggi ini memilikki cirri cirri rohaniah yang amat tinggi maqamnya. Hatinya tidak lagi bersuka ria kerana memperolehi sesuatu dan tidak pula bersedih kerana kehilangan sesuatu; orang yang memujinya dan orang yang mencelanya dianggap sama saja; dan dia sentiasa merasa dekat dengan Tuhan dan merasakan nikmatnya ibadah.

Seiring dengan peringkat kezuhudan yang dicapai oleh para zahid muntahi ini, maka sifat sifat wira’I yang dimilikki mereka pun merupakan nilai nilai hakiki yang tinggi. Mereka menjalani wira’I dalam erti meninggalkan segala sesuatu yang dapat membuat seseorang lalai dan lupa kepada ALLAH walau sekejap saja dianggap sebagai dosa. Inilah puncak hakikat zuhud dan wira’I yang sesungguhnya.

Zuhud peringkat pertama adalah dikalangan orang awam, zuhud peringkat kedua adalah dikalangan para salik yang soleh dan peringkat terakhir ini hanya boleh dimilikki oleh orang orang yang lebih khusus atau khawas al khawas iaitu para Sufi sebagai orang orang yang arif bijaksana