Thursday, May 7, 2009

Mimpi Rasulullah s.a.w

Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda :

"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"

Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatang oleh malaikatul maut dengan keadaan yang amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, maka ia telah diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab, tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya, ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil memimpinnya ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita disekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-menderang.

Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya, maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicara mereka dengannya.

Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukannya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.

Tuesday, May 5, 2009

Tipu Daya yang Menimpa Ahli Ibadah dan Ahli Amal

Ahli ibadah dan ahli amal cukup banyak yang terpedaya, antara lain:

- Kalangan yang terpedaya dalam shalatnya;
- Kalangan yang terpedaya dalam membaca al-Qur'an;
- Kalangan yang terpedaya dalam hajinya;
- Kalangan yang terpedaya dalam perjuangannya;
- Kalangan yang terpedaya dalam zuhudnya.

Di antara mereka ada yang mengabaikan ibadah fardhu dan sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah. Ketika mereka menekuni secara berlebihan ibadah "sunnah, mereka sampai ke luar pada sikap ekstrim. Bahkan seperti orang yang waswas dalam berwudhu', dimana terlalu berlebihan dan sampai tidak rela dengan air yang telah dihukumi suci menurut syariat, menimbang-nimbang yang tidak najis menjadi najis. Tetapi ketika dihadapkan makanan haram, ia mencari-cari yang dianggap bisa menghalalkan, bahkan mau memakan makanan yang benar-benar haram sekalipun. Seandainya di balik sikap hati-hatinya terhadap air ini ditunjukkan pula pada makanan, tentunya lebih baik, berdasarkan dalil sejarah sahabat - radhiyallahu 'anhum - ketika Umar bin Khaththab r.a. berwudhu dengan air yang ada pada tempat air orang Nasrani, yang diragukan kesuciannya. Sementara orang tersebut meninggalkan pintu-pintu halal, karena khawatir terjerumus dalam keharaman.

Mereka sering terkena was-was dalam niat shalat, di mana syetan tidak pernah melepaskan gangguannya atas niat yang benar, sehingga dirinya terganggu dan kehilangan jamaah shalat. Sampai kemudian waktu shalat pun habis. Seandainya takbiratul ihram bisa dilakukan, toh dalam hatinya penuh keraguan, apakah sudah niat atau belum. Kadang-kadang syetan membuat was-was dalam takbir, sampai bisa mengubah sifat-sifat takbir karena sangat hati-hatinya, sementara bacaan al-Fatihah yang didengar berlalu. Semula terjadi di awal shalat, kemudian seluruh ibadah shalatnya terkena was-was. Hatinya tidak hadir dalam khusyu' dan terpedaya oleh was-wasnya. Ia tak tahu bahwa kehadiran kalbu dalam shalat merupakan kewajiban. Sedangkan Iblis memperdayainya dan menghiasi dengan was-was tadi. Iblis berbisik kepadanya, "Was-wasmu itu, berarti membedakanmu dengan ibadahnya orang awam. Dirimu lebih baik di sisi Tuhanmu".

Mereka juga dibelenggu was-was dalam mengeluarkan suara huruf al-Fatihah sesuai dengan makhrajnya, demikian pula seluruh dzikirnya. Mereka selalu ekstra hati-hati dalam hal-hal tasydid dan terlalu berlebihan dalam membedakan huruf dhadh dan tha. Tak ada kepentingan lain selain sibuk dengan upaya-upaya seperti itu. Mereka tidak merenungkan rahasia dan makna-makna al-Fatihah. Mereka tidak tahu bahwa manusia tidak diberi tugas membaca al-Qur'an dengan cara mentahqiq makhraj hurufnya, kecuali sekadar kebiasaan dalam bicara sehari-hari. Tentu suatu tipudaya besar terjadi di sini. Seperti mereka ini, adalah orang yang membawa surat kepada raja, dan diperintah untuk membacakan isinya di hadapan sang raja, lalu ia menunaikan dengan ucapan yang tereja dengan memfasih-fasihkan, diulang satu persatu, pada saat yang sama ia lupa apa isi yang terkandung dalam surat tersebut, hanya karena ingin menjaga kehormatan forum. Tentu ini tidak diragukan, bahwa ia mencari posisi politis, dan perlu dihantarkan ke rumah sakit gila, dikategorikan sebagai orang yang hilang akal.

Ada kalangan yang terpedaya melalui bacaan al-Qur'an. Mereka mempercepat bacaannya, agar sehari semalam bisa khatam, lisannya mengalir terus membaca, sementara hatinya mengkhayal ke mana-mana dan memikirkan duniawi. Hatinya tidak memikirkan makna-makna agar tidak bisa berbuat pelanggaran terhadap kandungannya, mencari nasihat melalui isinya, berpijak pada perintah dan larangannya, lalu memposisikan al-Qur'an sebagai pelajaran, menikmati maknanya bukan nadanya. Barangsiapa membaca al-Qur'an Kitabullah sehari semalam seratus kali lantas meninggalkan perintah dan larangannya, ia pun berhak mendapat siksa. Terkadang ia mempunyai suara yang merdu, membacanya dan menikmatinya bahkan terpedaya oleh keenakan bacaan tersebut. Lalu ia menduga bahwa kenikmatan itu merupakan kenikmatan munajat kepada Allah swt. dan mendengarkan Kalam-Nya. Sungguh jauh dari harapan! Sebab ia menikmati karena keindahan suaranya. Seandainya ia menemukan lezatnya Kalam Allah pasti ia abaikan suara dan keindahannya, sarna sekali tak ada hasrat dengan suara dan nada. Lezatnya Kalam Allah adalah dari segi kandungan makna. Sungguh, yang mengabaikan makna ini terpedaya secara besar-besayan.

Kalangan lain yang terpedaya dalam ibadah adalah mereka yang melakukan puasa. Kadang-kadang mereka puasa sepanjang tahun dan hari-hari mulia. Sementara mereka tidak mau menjaga lisannya dari pergunjingan, menjaga hatinya dari riya', menjaga perutnya dari barang haram ketika berbuka, dan tidak menjaga dari sikap berlebihan. Mereka meninggalkan kewajiban yang ada, justru mementingkan yang sunnah. Mereka menduga bahwa mereka itu bisa selamat. Namun sebaliknya, sangat jauh dari selamat. Orang yang selamat adalah orang yang diberi anugerah hati yang selamat. Sedangkan ia berada dalam keterpedayaan yang dahsyat.
Yang lain juga ada yang terpedaya melalui ibadah haji, sementara dirinya tidak bisa keluar dari kezaliman, penunaian hutang, tidak mendapatkan ridha kedua orangtua, dan tidak mencari konsumsi halal. Kadang-kadang mereka mengabaikan shalat fardhu di tengah-tengah jalan, kadang-kadang merasa lemah untuk menyucikan pakaian dan badan. Mereka membiarkan pemungut cukai secara zalim, tidak menjaga tindakan kotor dan pertentangan di jalan. Kadang-kadang mereka mengumpulkan harta haram, lantas disedekahkan orang-orang miskin di jalan, semata untuk meraih riya' dan pujian.
Pertama, ia telah berbuat maksiat karena mendapatkan barang haram.

Kedua, ia menginfakkan untuk riya'. Ketika sampai di Ka'bah, ia hadir dengan hati penuh noda akhlak dan kehinaan sifat-sifatnya, pada saat yang sama ia merasa dalam kebaikan di sisi Tuhannya. Padahal ia sangat terpedaya.

Ada kalangan yang terpedaya melalui jalan rasa takut kepada Allah dan amar ma'ruf nahi munkar, mereka melakukan aktivitas tersebut sementara lupa dengan diri sendiri. Ketika memerintahkan kebaikan, ia merasa radikal, semata untuk unjuk posisi dan kehormatan. Dan ketika bertemu dengan kemungkaran, lantas ada seseorang yang turut mengingkari dirinya, ia tampakkan kemarahannya, sembari berkata, "Aku ini penegak kebenaran, bagaimana Anda berani-beraninya menentang saya!" Kadang-kadang, ketika di masjid banyak orang berkumpul, ia berani menyalahkan orang yang datang terlambat, dengan ucapan-ucapannya. Kadang-kadang ia hanya menginginkan riya', kagum pada diri sendiri dan posisi.

Tanda-tandanya jika di masjid itu ada orang lain yang berdiri lebih dahulu ia merasa jengkel. Di antara mereka ada yang melakukan adzan, dan menduga adzannya itu karena Allah. Namun ketika ada orang lain datang dan melakukan adzan saat ia tidak ada, ia merasa kiamat telah tiba. Lalu serentak ia mengomel, "Mengapa Anda mengambil hakku dan mendesakku!" Ada pula yang berambisi menjadi imam masjid, dengan menduga bahwa posisi itu baik, namun tujuannya agar dikatakan, orang ini adalah imam masjid ini dan itu. Tanda-tanda tipudaya yang mereka rengkuh adalah manakala ada orang lain yang lebih wara' dan lebih alim maju untuk menjadi imam, ia merasa keberatan.

Ada kelompok lain yang hidup bermukim di kota Mekkah dan Madinah, namun terpedaya karenanya. Mereka tidak mengintrospeksi hatinya dan tidak menyucikan jiwa dan raganya, kadang-kadang malah hatinya senantiasa ada di negeri masing-masing.

Mereka saling berbicara bahwa dirinya telah mukim di kedua kota suci itu, "Saya mukim di Mekkah sekian tahun dan sekian tahun." Ini berarti tertipudaya. Padahal yang lebih lurus adalah orang yang hidup di negeri masing-masing namun hatinya ada di Mekkah. Seandainya mukim di sana, hendaknya menjaga benar-benar hak-hak mukim yang sebenarnya. Jika tinggal di Mekkah hendaknya menjaga hak-hak Allah swt. Jika tinggal di Madinah hendaknya menjaga hak-hak Nabi saw.

Dan nyatanya mereka tidak bisa menjaga seperti itu, dan akhirnya terpedaya melalui tingkah laku lahiriahnya dengan asumsi tindakannya itu menyelamatkan mereka. Tentu sangat jauh dari tujuan sebenarnya. Kadang-kadang mereka ini malah tidak toleran dengan satu suapan saja buat orang-orang fakir miskin. Sungguh betapa sulit bagi mereka untuk bergaul bersama makhluk, lalu bagaimana ia bisa bergaul bersama Allah Sang Khalik? Alangkah indahnya orang yang bersahabat dan bertetangga dengan menjaga penuh jiwa dan raganya.

Ada kelompok ummat yang zuhud dengan harta benda, namun menerima pakaian dan makanan dengan cara yang hina, menempati masjid-masjid sebagai tempat tinggalnya. Mereka menyangka telah sampai pada tahap seorang zuhud, sementara mereka senang dalam posisi dan pangkat. Posisi kepemimpinan bisa diraih melalui, antara lain, ilmu pengetahuan, atau melalui nasihat yang diberikan atau melalui sikap zuhudnya itu. Mereka lebih memilih kehinaan menuju kehancuran terbesar. Sebab posisi tahta lebih besar nilainya dibanding harta.

Ada kalangan yang terpedaya melalui jalan rasa takut kepada Allah dan amar ma'ruf nahi munkar, mereka melakukan aktivitas tersebut sementara lupa dengan diri sendiri. Ketika memerintahkan kebaikan, ia merasa radikal, semata untuk unjuk posisi dan kehormatan

Seandainya orang harus memilih jalan selamat, apakah ia harus memilih harta atau tahta, pasti yang lebih mendekati selamat adalah harta.

Mereka semua terkena tipudaya. Mereka menyangka sebagai para zuhud duniawi, tetapi mereka tidak tahu apa sebenarnya makna dunia itu, sebab mereka seringkali memprioritaskan orang-orang kaya dibanding orang miskin.

Di antara mereka ada yang kagum terhadap ilmu pengetahuannya sendiri, ada pula yang memprioritaskan khalwat dan 'uzlah, namun tindakannya tidak memenuhi syarat-syaratnya. Di antara mereka ada yang ketika diberi harta menolak, karena takut kalau zuhudnya batal, padahal sebenarnya cinta terhadap harta, hanya karena khawatir dicaci orang lain ia menolak harta tersebut.

Di antara mereka ada yang secara ekstrem melakukan amaliah fisik hingga ada yang shalat sehari semalam sampai seribu rakaat dan mengkhatamkan al-Qur'an. Seluruh tindakannya tidak untuk menjaga hatinya dari riya', takabur, ta'jub dan seluruh akhlak yang destruktif Kadang-kadang mereka berasumsi bahwa amal-amal fisiknya bisa mengungguli seluruh kebajikan. Sungguh jauh apa yang mereka raih!

Tak sedikit pun ada takwa di hatinya. Dan anehnya, mereka pun ada yang berperilaku seperti cendekiawan yang dianggapnya lebih tinggi dari gunung, dengan cara beramal kebajikan fisik berlebihan. Lantas semakin terpedaya ketika ada orang yang berkata kepadanya, "Anda ini seperti wali autad penjaga bumi, atau termasuk Waliyullah dan kekasih-Nya." Begitu senang ia mendengarkan pujian itu, lalu ia tambahkan kesucian jiwanya. Seandainya suatu hari ada orang yang memaki, sekali, dua kali atau tiga kali, ia mengkafirkan dan memerangi orang yang berbuat demikian sembari berkata kepada orang yang mencaci, "Anda tak akan diampuni Allah selama-lamanya!"

Kelompok lain ada yang berhasrat pada ibadah-ibadah sunnah, namun tidak menghormati ibadah fardhu. Anda melihat mereka dengan gembiranya ketika mereka bisa melakukan shalat dhuha dan shalat lail dan shalat-shalat nawafil lainnya. Namun mereka tidak menemukan kelezatan shalat fardhu, karena dilakukan secara tergesa-gesa di awal waktu. Ia lupa dengan sabda Nabi saw.:
"Tidak ada keutamaan bertaqarrub bagi orang-orang yang melakukan taqarrub, dibanding menunaikan ibadah yang difardhukan Allah kepada mereka".

Meninggalkan prioritas-prioritas kebaikan termasuk tindakan buruk. Bahkan telah jelas dalam diri manusia ada dua fardhu: ada yang senjang, ada yang tidak senjang. Atau dua sunnah: ada yang waktunya sempit, ada yang waktunya luas. Manakala tertib prioritas ini tidak dijaga, berarti ia terkena tipudaya. Analisanya sangat banyak. Bahwa maksiat itu jelas. Karena itu seharusnya ada prioritas ketaatan satu dengan yang lain, seperti mendahulukan yang fardhu atas yang sunnah, mendahulukan fardhu 'ain atas fardhu kifayah dimana fardhu 'ain itu tidak bisa dibebaskan dengan adanya orang lain yang melakukannya, sebagaimana pada fardhu kifayah.

Mendahulukan fardhu-fardhu kifayah yang lebih penting kemudian pada fardhu 'ain yang di bawahnya. Mendahulukan yang senjang, seperti memprioritaskan ibu dibanding ayah, mendahulukan nafkah kedua orangtua dibanding naik haji, mendahulukan shalat Jum'at manakala waktunya tiba dibanding shalat hari raya, dan mendahulukan kepentingan agama atas kepentingan yang lain. Betapa besar yang harus dipikul hamba dengan pelaksanaan dan perigatan seperti itu. Namun tipudaya dalam tertib ibadah seperti itu cukup banyak dan detail serta sangat samar, tidak bisa menganalisa kecuali para Ulama yang menghayati pendalaman ilmunya.

Sunday, May 3, 2009

Kenali Diri Kita Untuk Mendapat Rasa Kehambaan

Tuhan ada mengingatkan kita di dalam satu ayat Al Quran yang bermaksud:

''Di dalam diri kamu apakah kamu tidak menganalisanya''

Hadis juga ada berkata,''Barangsiapa mengenal dirinya nescaya dia mengenal Tuhannya.''

Ertinya kalau kita perhatikan tentang diri kita sendiri, kita akan mendapat berbagai-bagai ilmu, kita akan takut Tuhan, kita akan cinta kepada-Nya, kita akan sentiasa rasa bertuhan, kita akan rasa kehambaan.

Kita akan mendapat sifat taqwa
Sifat taqwa adalah bekalan kita ke Akhirat.
Itulah dia keselamatan kita dunia Akhirat.
Rupanya di dalam diri kita penuh dengan lautan ilmu kalau kita perhatikan
Maha Suci Engkau Tuhan, Maha Besar Engkau, sungguh berkuasa Engkau.

Tuhan, aku ingin belajar dengan diriku sendiri
Ajarkanlah aku agar aku dapat ilmu dari kejadianku ini

Aku kaji diri lahirku, aku renung batinku
Aku nilai akal fikiranku, kekuatannya, bagaimana ia mendapatkan ilmu, bagaimana ia memproses ilmu
Cara mana dia menyimpan ilmu dan maklumat yang didapati dan bagaimana ia mengeluarkan ilmu dan maklumat itu
Waktu bila ia terangsang menerima ilmu dan maklumat dari yang dilihat, didengar, disentuh dan dirasa
Ketika bila pula ia terangsang mengeluarkan ilmu dan maklumat yang tersimpan itu

Kemudian aku belajar perjalanan nafas dan peranannya, kehendak-kehendaknya,
bila ia merangsang, akibatnya, baik buruknya dan kesannya
Aku kaji juga hatiku atau jiwaku, perasaan yang mendatang silih berganti selalu,
peranannya dan kesannya

Aku kaji jasad lahirku, keadaannya, peranannya, waktu sakit, waktu sihat
Tuhan, rupanya setiap kejadian yang berlaku pada diriku lahir dan batin, ada hikmah yang tersembunyi
Segala-galanya yang terjadi adalah didikan bagiku
Samada yang berlaku itu nampaknya positif mahupun negatif
ada rahsia yang tersirat ia sungguh seni

Aku nilai dengan basirahku secara halus dan teliti semuanya baik bagiku
Lantas aku faham dan mengerti mengapa Engkau lakukan kepadaku
Adakalanya aku senang, adakalanya aku susah
Ada ketikanya aku sihat, ada waktunya aku sakit
Adakalanya badanku letih,ada waktu badanku gagah dan cergas
Aku kaji perjalanan hatiku selalu, perasaanya silih berganti
Ada masa aku miskin, ada masa aku kaya
Dan berbagai-bagai lagi keadaan yang berlaku silih berganti terutama perasaan hati
Adakalanya aku sedih, adakalanya aku gembira
Adakalanya aku benci, adakalanya aku suka
Adakalanya hatiku resah gelisah, adakalanya hatiku tenang dan senang
Adakalanya hatiku rasa marah, adakalanya hatiku rasa lapang dada
Adakalanya hatiku rasa jijik, adakalanya hatiku rasa biasa sahaja
Adakalanya hatiku pilu, adakalanya hatiku riang dan ceria
Adakalanya hatiku rasa malu, adakalanya biasa sahaja
Adakalanya aku rasa takut, ada ketikanya aku rasa berani
Adakalanya hatiku rasa curiga, adakalanya hatiku rasa percaya

Di sini sungguh banyak ilmu yang aku dapat, di sini sungguh banyak rahsia diriku
dari-Mu yang aku gali
Rupanya sifat yang sering berubah pada diriku itu menyedarkan aku
bahawa aku adalah hamba-Mu
Kerana sifat hamba atau makhluk adalah berubah-ubah selalu
Di sini aku faham lagi bahawa sifat hamba itu tidak sempurna sentiasa baru
Rupanya aku hamba-Mu menerima ketentuan dari-Mu

Sungguh Engkau Maha Pentadbir termasuk diriku
Aku faham lagi bahawa aku lemah, hamba memanglah lemah,
agar aku selalu bergantung dengan-Mu
Dan seterusnya aku faham apa yang berlaku kepada diriku bukan kehendak aku
Rupanya segala-galanya yang berlaku pada diriku adalah kehendak-Mu

Di sini menunjukkan kelemahanku lagi bahawa sedikit pun aku tidak ada kuasa
pada diriku walaupun sebesar habuk atau sebesar debu
Kuasa-Mulah sepenuhnya yang berlaku pada diriku tidak campurtangan sedikit dariku
Kehendak-kehendak-Mulah yang terjadi ke atas diriku

Menjadikan aku takut kepada-Mu, rupanya takut aku itu kepada-Mu
itulah yang Engkau mahu
Aku renung lagi kejadian yang berlaku kepada diriku apakah rahsianya kejadian itu
Rupanya di waktu susah dan berlaku bala, agar aku sabar supaya aku dapat pahala sabar
Di masa-masa yang lain aku senang, sihat, kaya, agar aku bersyukur supaya aku dapat pahala syukur

Itulah yang Engkau mahu dariku
Supaya aku dapat kekalkan rasa bertuhan dan rasa kehambaan
Hikmah yang lain aku dapat faham supaya aku tidak sombong, tidak riyak,
tidak megah, tidak bakhil, tidak tamak
Sifat-sifat itu adalah Engkau benci
Aku faham agar aku tidak di dalam kemurkaan-Mu

Begitulah yang aku faham, terima kasih Tuhan Engkau beri aku faham tentang diriku
Setelah aku kaji, renung,analisa diriku lahir dan batinnya
sungguh banyak ilmu yang aku dapat dari diriku ini
Sunguh ajaib dan menghairankanku

Di dalam diriku ada berbagai ilmu, bahkan lautan ilmu, ada ilmu hikmah, ada ilmu tauhid,
ada ilmu syariat, ada ilmu tasawuf, ada ilmu akhlak
Ada ilmu yang tersurat, ada ilmu yang tersirat, ada ilmu falsafah, ada ilmu manusia, ada ilmu
psaikologi, ada ilmu biologi
Ada benih baik, ada benih buruk, terpulang kepada kita yang mana kita hendak suburkan
Patutlah Tuhan mengingatkan kita di dalam Al Quran untuk kenali diri kita.

Friday, May 1, 2009

Penyakit Umat Akhir Zaman

Pertahanan diri umat Islam sebenarnya adalah rohnya yang merupakan baju besi maknawi dan rohani dari serangan luar. Gejala-gejala yang tidak sihat yang datang daripada perang saraf dan gerak saraf musuh adalah untuk melemahkan ketahanan iman umat Islam, perpaduan serta ilmu pengetahuan islam. Musuh jika menyerang dari aspek yang lain seperti kekayaan, ketenteraan, itu hanyalah serangan kekuatan sampingan, bukan serangan terhadap kekuatan umat yang utama

Di akhir zaman ini sudah ramai umat Islam yang kehilangan Tuhan atau tidak memikirkan lagi adanya Tuhan. Hinggakan mereka tidak terasa lagi peranan Tuhan di dalam kehidupan. Walaupun mereka percaya adanya Tuhan, tapi pada mereka kehidupan ini seolah-olah tiada campur tangan Tuhan. Boleh dikatakan, sudah ramai umat Islam yang 'tidak perlukan' Tuhan. Jika mereka pandai, pada mereka ini adalah disebabkan usaha mereka semata-mata, tidak kena-mengena dengan Allah.

Jika mereka kaya, berpangkat atau berkuasa, ia adalah kerana kemampuan mereka. Pada mereka, Tuhan sudah tiada kuasa menentukan nasib mereka. Pada mereka, Tuhan itu hanya sekadar ada, peranan-Nya kepada manusia seolah-olahnya tidak ada. Cuma sekali-sekala terasa Tuhan diperlukan, setelah mereka tidak ada kuasa pada diri mereka, seperti sakit, miskin atau dianiaya sesama mereka. Barulah mereka mula berdoa atau meminta kawan-kawan menolong mendoakan keselamatan mereka.

Setelah baik atau senang semula, mereka lupa kembali kepada Allah. Dia tidak diperlukan pula. Sikap ini bukan sahaja berlaku kepada ramai umat Islam di akhir zaman. Bahkan yang kelihatan beragama pun seperti masih bersembahyang, berpuasa, naik haji, sama sahaja.

Orang beragama dengan tidak beragama sudah sama sikapnya. Maka kesimpulannnya, yang paling rosak di waktu ini adalah aqidah umat Islam. Pada mereka Tuhan ada atau tidak ada sama saja. Kalaupun percaya adanya Tuhan, Tuhan tidak diperlukan di dalam hidup mereka. Pergantungan dengan Tuhan sudah tidak ada. Betapa pulalah untuk ditakuti atau dicinta, langsung tidak ada di dalam perasaan mereka.

Side effectnya apa sudah terjadi?

Orang beragama atau tidak, perangainya sama saja.
Sama-sama jahat, sama-sama membuat mungkar, sama-sama bergaduh, sama-sama berkrisis.
Sama-sama tidak ada kasih sayang, sama-sama tidak ada bertimbang rasa, sama-sama tidak peduli-mempeduli.
Sama-sama tidak sabar, sama-sama tidak pemurah, sama-sama tidak merendah diri.

Mengapakah perangai orang yang beragama dengan yang tidak ada agama sama?

Kerana mereka mengamalkan agama secara tradisi, agama sekadar satu warisan, tidak ada ilmu menyeluruh tentang agama, apalagi dihayati. Yang diharap hanya pahala, pahala, pahala. Pengamalan Islam bukan ditunjangi oleh kerana takut atau cintakan Tuhan, maka sebab itulah ibadah mereka tidak melahirkan akhlak yang mulia.

Maka berkat Tuhan pun tidak turun lagi ke dunia ini. Apabila berkat tidak ada, benda baik pun menjadi mudharat. Tuhan menimpakan bencana kepada sesiapa sahaja tidak kira orang baik atau orang jahat, berlaku secara umum di mana-mana. Jika kepada orang jahat itu, sebagai hukuman, kepada orang baik pula sebagai penghapusan dosa atau meninggikan darjatnya.

Makanan yang baik-baik pun sudah hilang berkatnya, sedap dan lazat tetapi membawa penyakit. Penyakit barah yang menakutkan, kencing manis yang merbahaya. Darah tinggi, sakit jantung menyusahkan manusia. Begitulah kalau Tuhan sudah murka kepada manusia, makanan yang halal pun menjadi musuh manusia. Walaupun begitu manusia tidak insaf juga, maksiat dilakukan bertambah berganda-ganda.

Tanpa takut, tanpa bimbang tindakan Tuhan, ajaran Tuhan sekalian alam masih tidak dipedulikan. Tuhan tidak diperjuangkan bahkan dilupakan. Manusia sibuk dengan makan, sibuk dengan minum dan dan sibuk dengan pakaian.

Sibuk dengan maksiat dan hiburan, sibuk dengan pembangunan dan kemajuan. Tuhan hanya sebagai slogan. Tuhan bukan matlamat hidup, kalimah Tuhan hanya sampingan. Maka, tidak hairanlah Tuhan bertindak. Dia mengarahkan makanan menjadi musuh insan hingga setiap hari manusia menderita disebabkan oleh makanan.

Tidak nampak lagi oleh manusia akan kekuasaan Tuhan…..
Bilakah manusia mahu sedar dan insaf kembali ke pangkal jalan??

Hari ini orang menyebut Allah
bukan dari jiwanya.
Ia disebut hanya sebagai budaya.
Tuhan disebut sekadar
untuk menyedapkan bahasa atau kata-katanya...

Renungilah...


Ya Allah Ya Tuhan Kami Yang Maha Penyayang dari segala penyayang
Pandanglah kami dengan kasih sayangMu...

Wednesday, April 29, 2009

Ilmu Mesti Berdarah Daging

Tiada siapa dapat menafikan bahawa ilmu itu sangat penting. Kalau hendak dunia perlu pada ilmu, kalau hendak Akhirat juga perlu pada ilmu. Menuntut ilmu itu terutama yang berbentuk fardhu ain adalah wajib bagi setiap orang Islam yang berbentuk fardhu kifayah pula wajib ke atas masyarakat Islam.

Allah mengangkat orang yang berilmu itu beberapa darjat. Tidak sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Orang yang takutkan Allah itu adalah dari kalangan orang-orang yang berilmu. Orang jahil itu adalah musuh Allah. Rasulullah menganjurkan supaya menuntut ilmu walaupun sampai ke Negara China dan bermula menuntut ilmu dari buaian hingga ke liang lahad.

Walaupun ilmu itu sangat berharga dan penting, namun sama ada ilmu itu dapat memberi manfaat atau tidak, adalah satu perkara yang lain. Ramai yang mempunyai ilmu terutama ilmu agama tetapi ibadah, akhlak dan cara hidup mereka sama sahaja dengan orang yang tidak mempunyai ilmu. Ramai orang mempunyai banyak ilmu agama tetapi pada masa yang sama masih menolong system dan fahaman yang sangat bertentangan dengan Islam.

Namun ingat, bahwa ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang membuahkan amalan, itulah ilmu yang bermanfaat. Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mengatakan, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Fungsi ilmu diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di dalam hadits disebutkan, “Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya”. Orang semacam inilah yang termasuk satu diantara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah sya’ir dikatakan,

Orang alim yang tidak mau
Mengamalkan ilmunya
Mereka akan disiksa sebelum
Disiksanya para penyembah berhala
(lihat Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)

Ancaman bagi orang yang berilmu tapi tidak beramal

Syaikh Nu’man bin Abdul Karim al Watr mengatakan, “Di dalam Al Qur’an Allah ta’ala sering sekali menyebutkan amal shalih beriringan dengan iman. Dan Allah juga mencela orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Dan Allah mengabarkan bahwa perbuatan seperti itu sangat dimurkai-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah karena kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan” (QS. Ash Shaff [61] : 2-3) Di dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadits Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Maka penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?”. Dia menjawab, “Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya”. Oleh sebab itu ilmu harus diamalkan, shalat harus ditegakkan, zakat juga harus ditunaikan dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya Allah tidak memiliki tujuan lain dalam menciptakan makhluk kecuali supaya mereka beribadah kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56)” (lihat Taisirul Wushul, hal. 10)

Mempunyai banyak ilmu itu tidak menjamin apa-apa. Yang penting ilmu itu difahami, dihayati dan diamalkan. Hadis ada menyebut:

"Kalau Alah mahukan kebaikan itu ke atas seseorang itu, akan diberiNya orang itu faham tentang agama."

Hadis ini tidak menyebut akan diberiNya ilmu tetapi menyebut akan diberi 'faham' tentang agama. Jelas sekali bahawa mempunyai ilmu itu lain dan faham tentang agama itu satu perkara yang lain pula.

Ilmu jangan dibuat seperti pakaian. Pakaian bukan sebahagian daripada tubuh badan kita. Kadang-kadang kita pakai dan kadang-kadang kita buka. Itu sebabnya kita lihat sesetengah orang yang berilmu, kalau bercakap tentang Islam di atas pentas, di dalam forum atau ceramah, sungguh kagum kita mendengar apa yang mereka perkatakan. Keluar dari mulut berbagai-bagai istilah Islam yang hebat-hebat. Iman, taqwa, muqarrobbin, siddiqin, muhasabah, musyahadah, muraqobah, murabahah, khusyuk, khuduk dan sebagainya. Tetapi apabila turun pentas, cakap- cakap sudah jadi lain. Bila berjumpa dia di kedai, dia cakap pasal politik. Bila jumpa di restoran dia cakap pasal main bola. Bila jumpa di pejabat, dia cakap pasal gaji dan elaun. Cakap pasal pinjaman rumah dan pinjaman kereta. Cakap-cakap Islam sudah tidak ada lagi. Bila naik ke pentas semula, mula balik cakap pasal Islam.

Ilmu mesti mendarah daging. Tidak cukup hanya dihafal sahaja. Ilmu mesti mengisi dan mengalir di seluruh pelosok hati dan jiwa kita. Ilmu mesti dirasakan dan dihayati. Barulah ilmu itu dapat diamalkan dan diperjuangkan. Barulah ilmu itu dapat jadi penyuluh dalam hidup kita. Barulah ilmu itu dapat membentuk akhlak dan peribadi kita. Segala perbuatan dan percakapan kita jangan terlepas dari dipandu oleh ilmu yang tersemat di hati kita. Apa pun yang kita buat, kita buat Islam. Apa pun yang kita cakap, Islam tidak kira di mana dan dengan siapa. Barulah akan terpancar ilmu Islam itu di dalam kehidupan kita seharian.

Ilmu mesti disertakan dengn taqwa. Barulah ilmu itu boleh dirasai oleh hati dan diterjemahkan sebagai akhlak lahir dan batin. Bila akhlak sudah sesuai dan selari dengan ilmu Islam, maka bolehlah dikatakan kita sudah berakhlak Islam. Ketika itu kita tidak perlu bercakap banyak. Akhlak kita sudah cukup untuk menarik manusia kepada Islam.

Sayidatina Aisyah r.ha pernah ditanya oleh seorang sahabat bagaimanakah akhlak Rasulullah SAW? Beliau menjawab: "Akhlak Rasulullah ialah seperti Al Quran."

Monday, April 27, 2009

Kekuasaan Allah itu Pelajaran Bagi Manusia

Allah subhanahu wa ta`ala Maha Kaya, Dia tidak perlu kepada makhluk-Nya agar mereka menyembah-Nya. Dialah Zat yang sempurna sifat-Nya yang tidak memiliki kekurangan sedikit pun. Dia tidak akan mati binasa, tidak akan pernah lemah, dan tidak pernah mengantuk. Dia tidak akan pernah jatuh miskin sehingga memerlukan bantuan makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

Maksudnya: Wahai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji
(Surah Fatir, ayat 15)


Allah tidak dapat dilihat oleh makhluk-Nya, sedangkan pada hari akhirat nanti orang-orang mukmin akan dapat melihat Allah. Di dunia Allah subhanahu wa ta`ala telah berbicara dan bercakap-cakap dengan Musa `alaihi salam. Allah subhanahu wa ta`ala telah mengambil Ibrahim sebagai Khalilullah (teman Allah). Allah subhanahu wa ta`ala mengajarkan ilmu hukum kepada Nabi Sulaiman `alaihi salam dan mengajarkan ilmu kepada Nabi Muhammad sollallahu `alaihi wasallam. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

Maksudnya: Tuhan menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya
(Surah al-Qasas, ayat 68)
Sesungguhnya Allah-lah tempat bergantungnya segala sesuatu, maka orang-orang yang sedang kesusahan bergantung kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

Maksudnya: Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan
(Surah ar-Rahmaan, ayat 29)

Allah Maha Penyabar, dan tiada yang dapat menandingi kesabaran-Nya. Allah Maha Dermawan tiada yang dapat menandingi kedermawanan-Nya. Sesungguhnya tiada orang yang lebih penyayang daripada Allah dan tiada yang paling cepat dalam mengazab melainkan Allah. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

Maksudnya: Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat seksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(Surah al-A'raaf, ayat 167)

Sunday, April 26, 2009

Syafaat Al-Quran

Di dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda yang bermaksud:

"Pada hari Kiamat nanti, di hadapan Allah swt tidak akan ada syafaat yang mempunyai taraf yang lebih tinggi daripada Al-Quran, bukan Nabi, bukan malaikat dan sebagainya".

Melalui hadis di atas kita dapat mengetahui bahawa Al-Quran adalah pemberi syafaat yang mana syafaatnya akan diterima Allah.

Terdapat satu riwayat menyatakan bahawa, “Apabila seseorang itu meninggal dunia dan keluarganya sibuk melakukan upacara pengebumian, seorang yang kacak akan berdiri di bahagian kepalanya. Apabila mayat itu di kafankan, orang itu akan datang mendiami antara dadanya dan kain kafan itu. Bila selesai dikebumikan, orang ramai akan pulang ke rumah dan datanglah dua malaikat, Munkar dan Nakir cuba untuk memisahkan orang yang kacak itu supaya mereka dapat membuat pertanyaan mengenai iman orang yang meninggal dunia itu tanpa sebarang gangguan. Tetapi orang yang kacak itu akan berkata, “ Dia adalah kawanku. Aku tidak akan meninggalkannya berseorangan walau dalam keadaan apa sekalipun. Jalankanlah tugas kamu tetapi aku tidak akan meninggalkannya sehigga aku membawanya masuk ke syurga!” Selepas itu dia berpaling ke arah mayat sahabatnya dan berkata, “Akulah Al-Quran yang mana engkau telah membacanya kadang kala dengan suara yang perlahan dan kadang kala dengan suara yang kuat. Janganlah engkau bimbang. Selepas pertanyaan Munkar dan Nakir ini , engkau tidak akan berasa dukacita lagi.” Bila pertanyaan selesai, orang yang kacak itu akan mengadakan untuknya satu hamparan sutera yang penuh dengan kasturi dan malaikat-malaikat dari syurga.

Keterangan hadis ini menunjukkan bahawa al-Quran mempunyai fadilat yang amat besar sebagai jaminan serta pelindung bagi pembaca yang mengamalkan segala kandungannya.

Alangkah indahnya dan bahagianya sekiranya orang itu adalah kita. Kita tahu tentang tingginya syafaat Al-Quran, tetapi dengan mengetahuinya sahaja tanpa berusaha untuk mendekati dan merebut syafaat itu kita adalah orang-orang yang rugi. Cuba kita renungkan sejenak diri kita sendiri. Ajal dan maut adalah ketentuan Allah. Bila ia telah datang kita tidak akan mampu memperlambat atau mempercepatkannya walaupun untuk tempoh sesaat. Dan apabila berada di dalam kubur siapakah lagi yang akan menemani kita jauh sekali memberi bantuan kecuali amalan-amalan kita sewaktu di dunia. Allah telah menjanjikan Al-Quran sebagai pemberi syafaat terulung dan janji Allah itu adalah benar. Dekatilah Al-Quran dan jadikanlah ia teman di dunia dan pemberi syafaat di akhirat. Semoga Allah memberi kita restu dan hidayahNya…. AMIN!!!

Friday, April 24, 2009

15 Hikmah Imam Ghazali

Berkata Iman Ghazali (ra) dalam kitabnya, Minhajul A’bidin,

”Kelebihan yang disegerakan Allah Taala terhadap hambaNya apabila melakukan ketaatan kepada-Nya, yang sentiasa berkhidmat kepadaNya, dan menghabiskan usia hidupnya pada jalan ini”

1.Allah Taala sentiasa menyebut dan memuji namanya, dan semulia-mulia hamba itu apabila Tuhan sekalian alam sentiasa menyebut dan memujinya.

2. Tuhan sendiri mengucapkan terimakasih dan meninggikan kedudukannya. Kalau diri diucapkan terima kasih oleh makhluk yang dhaif dan membesar-besarkan dirinya, nescaya diri menjadi mulia kerananya, apalagi Tuhan Yang Awal dan Akhir.

3. Allah Taala sangat mengasihinya dan kiranya manusia dicintai, oleh seorang Penghulu Kampung atau seorang raja dalam sesebuah negeri, sudah tentu dirinya berasa megah dan mendapat manfaat daripadanya. Betapa pula kasih yang diberi oleh Tuhan sekalian alam.

4. Allah Taala sendiri menjadi wakil kepadanya untuk mentadbirkan segala urusannya.

5. Allah Taala memeliharakan rezekinya dan ke mana saja ia pergi, maka di situ terdapat rezeki yang tidak perlu berasa susah payah pun.

6. Allah Taala sendiri menolong dan mengawal dirinya daripada musuh seteru dan menolak apa saja orang yang berniat untuk menyakiti hatinya dan melakukan kejahatan.

7. Allah Taala sendiri yang menjinakkan hatinya hingga tidak berasa keliaran hati terhadap sesuatu perkara yang baru datang, malah ia tidak berasa takut jika berlaku perubahan dan penggantian.

8. Dirinya sentiasa dipermuliakan dan tidak mendapat kehinaan sekalipun membuat kerja-kerja yang hina pada pandangan mata orang ramai. Tetapi ia tidak rela berkhidmat kepada raja-raja di dunia ini dan pembesar-pembesar negeri.

9. Tinggi hemah sekira-kira tidak ingin melumurkan diri dengan kecemaran dunia atau menjadi ahli dunia dan tidak pula ingin berpaling kepada perhiasan dan permainannya seperti permainan budak-budak yang olok-olok belaka.

10. Kaya hati, dan dirasa dirinya sekaya-kaya manusia dalam dunia. Nafsunya sentiasa tenang lega dan riang hati, malah tidak kisahkan kelaparan dan menyusahkan hatinya kalau ketiadaannya

11.Bersinar-sinar cahaya nur hati sehingga dapat memberi petunjuk dengan sinaran itu kepada orang ramai mengenai hal-hal ilmu pengetahuan, rahsia-rahsia, dan hikmah-hikmah yang tidak dapat diberi oleh manusia biasa, kecuali dengan ijtihad yang bersungguh-sungguh dan usia yang berpanjangan.

12. Lapang dada dan tidak berasa susah hati terhadap sesuatu bala yang menimpanya di dunia dan tidak berasa sakit hati dan susah hati atas apa yang diumpat dan diperkatakan oleh manusia.

13. Kelihatan hebat dan menakutkan nafsu dan hati orang ramai hingga terpaksa dihormati oleh kawan dan lawan dan amat ditakuti oleh orang yang sombong dan takbur juga orang yang berkepala batu, sekalipun ia seorang penguasa yang zalim.

14. Dicintai oleh hati manusia, sepertimana firman Allah Taala:
Ertinya, “Tuhan Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.” (Surah Maryam: 96). Oleh itu, anda lihatlah segala hati bersikap sayang kepadanya, dan semua nafsu bertabiat suka membesar-besarkan dan mempermuliakan dirinya.

15. Allah Taala menganugerahkannya keberkatan yang am, samada pada percakapan, perbuatan, pakaian, tubuh badan, dan sebagainya.

———————————————–

Ad-Darun Nafis
Sheikh Muhammad Nafis Idris Al Banjari

Wednesday, April 22, 2009

Mengapa Doa Tidak Makbul

Agama Islam menyuruh penganutnya supaya selalu bermohon kepada Allah swt. Setiap doa yang terbit dari hati yang tulus ikhlas akan diperkenankan oleh Allah Yang Maha Pemurah.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 186 yang bermaksud:
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang aku (Allah) maka (jawablah) bahawa aku ini hampir. Aku memperkenankan doa orang yang memohon apabila dia (sungguh-sungguh) bermohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, semoga mereka selalu mendapat panduan yang baik .

Ramai manusia mengeluh bahawa doanya masih belum diperkenankan Tuhan. Setiap pagi dan malam dia menadahkan tangan bermohon kepada Allah tetapi apa yang dimintanya tidak kunjung tiba.

Timbul pertanyaan di dalam hatinya : Kenapakah permohonannya itu masih belum dikabulkan Tuhan? Jarang orang yang berusaha untuk melakukan penelitian apakah sebab-sebabnya.

Pada hakikatnya sebab-sebabnya itu banyak terletak pada diri si pemohon itu sendiri. Kerana salah satu syarat yang penting untuk mendapat pengkabulan doa dari Ilahi haruslah doa itu disertai denagn hati yang khusyuk, bukan berdoa hanya di mulut sahaja. Tidak ada ertinya mulut yang kumat kamit sehingga kering tekak tetapi hati menerawang ke alam lain, jiwa tidak khusyuk mengadap Ilahi.

Dalam salah satu hadis dijelaskan bagaimana sifat dan bentuk doa yang diperkenankan Allah.
Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : Apabila kamu meminta kepada Allah bermohonlah dalam keadaan kamu yakin sepenuhnya akan dikabulkan Tuhan. Allah tidak memperkenankan doa seorang hamba yang hatinya lalai.

Dari hadis tersebut, ditegaskan oleh Rasulullah saw supaya setiap orang yang berdoa harus yakin bahawa doanya akan diperkenankan Tuhan sama ada segera atau lambat. Yakin itu akan timbul apabila seluruh jiwa dan raga dipusatkan mengadap Ilahi.

Salah seorang ulama sufi yang terkemuka iaitu Ibrahim Bin Adham yang hidup pada abad kelapan, pernah memberikan huraian tentang sebab-sebab doa seseorang tidak diperkenankan Tuhan. Tatkala berkunjung ke Basrah, beliau menerima pertanyaan dari sebahagian penduduk : Kenapakah nasib kami masih belum berubah, pada hal kami selalu berdoa, sedangkan Allah menjanjikan dalam al-Quran akan memperkenankan doa setiap orang yang bermohon? Ibrahim Bin Adham memberikan jawapan bahawa sebab-sebabnya ada 10 macam, iaitu:

Yang pertama : Kamu tidak menunaikan hak-hak Allah. Kamu kenal Allah tetapi tidak memenuhi hak-haknya. Hak Allah swt yang paling utama ialah untuk disembah. Setiap orang wajib mensyukuri nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya dengan jalan menyembahnya dengan sebenar-benar erti ibadah.Bagaimanakah Tuhan akan memperkenankan doa seseorang hamba kalau Tuhan mengatakan supaya dia berjalan ke kanan tapi masih ditempuhnya jalan ke kiri.

Kedua : Kamu tidak mengamalkan isi al-Quran. Kamu senantiasa membaca al-Quran tapi tidak kamu amalkan isi-isinya. Kitab Suci al-Quran senantiasa dibaca, dilagukan dengan bermacam-macam lagu tetapi isinya tidak dipelajari dan dihayati. Kalau pun ada satu dua ayat yang dapat difahamkan tidak pula diamalkan bahkan kadang-kadang sengaja dilanggar.

Ketiga : Kamu tidak mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Kamu selalu mendakwa cinta kepada Rasulullah saw tapi kamu tinggalkan sunnahnya. Rasulullah saw menunjukkan jalan yang lurus tapi tidak sedikit manusia yang memilih jalan yang bengkok. Kadang-kadang ada juga yang katanya mengikuti Sunnah Rasul tapi apa yang dikerjakannya itu bertentangan dengan apa yang dilakukan atau digariskan oleh Rasulullah saw, masih lagi mengikuti perkara-perkara khurafat yang bukan dari al-Quran atau as-Sunnah yang sahih.

Keempat : Kamu patuh kepada syaitan. Kamu sentiasa menyatakan bermusuh dengan syaitan tapi kamu patuhi dia. Syaitan itu adalah musuh manusia yang selalu berusaha menjatuhkan anak Adam ke lembah kehinaan dengan jalan mempengarohi nafsu manusia yang jelik. Dalam pergaulan hidup sehari-hari kebanyakkan manusia berlutut kepada syaitan dengan memperturutkan hawa nafsu yang buruk. Seharusnya manusialah yang menguasai nafsunya dan dengan sikapnya itu dia akan berjaya mengalahkan godaan syaitan.

Kelima : Kamu menerjunkan diri sendiri ke jurang kebinasaan. Kamu selalu berdoa supaya terhindar dari api neraka tapi kamu limparkan dirimu sendiri ke dalamnya. Iaitu kebanyakkan manusia ingin memasuki pintu kebahgiaan tapi sebaliknya dia sendiri seolah-olah mengunci pintu itu. Dia tidak mahu mengerjakan kebajikan tapi selalu bergelumang dengan perbuatan dosa dan maksiat.

Keenam : Ingin masuk Syurga tapi tidak beramal. Iaitu kamu berdoa untuk masuk Syurga tapi kamu sendiri tidak beramal untuknya.

Ketujuh : Sedar akan mati tapi tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. Kamu mengatakan bahawa kematian itu pasti datang tapi tidak pula mempersiapkan diri menghadapinya. Kamu mengakui dan insaf bahawa hidup di dunia ini hanya sementara sahaja sedangkan hidup yang abadi ialah di akhirat kelak, namun demikian kamu tidak mengerjakan amal saleh yang akan menjadi anak kunci membuka pintu kehidupan yang abadi itu.

Kelapan : Kamu melihat cacat orang lain, cacat sendiri tidak nampak. Kamu sibuk memikirkan dan mengurus aib saudara-sudaramu, tapi kamu tidak melihat aib kamu sendiri . Orang yang demikian selalu menuding jari kepada orang lain tapi amat jarang menghadapkan telunjuknya ke dadanya sendiri.

Kesembilan : Kamu mengecap nikmat tetapi tidak bersyukur. Kamu makan nikmat Ilahi tapi kamu tidak bersyukur atas kurnia itu. Sejak kecil manusia menikmati nikmat Ilahi dan beratus-ratus kurniaan yang lainnya tapi tidak berterima kasih, malah kadang-kadang membangkang menunjukkan sikap bongkak dan lupa daratan.

Kesepuluh : Kamu menguburkan jenazah tapi tidak menginsafkan diri. Kamu turut menguburkan orang yang mati tapi kamu sendiri tidak mengambil iktibar dari peristiwa itu. Iaitu kalau ada orang yang meninggal dunia kamu selalu tidak ketinggalan turut menghantar jenazah itu sampai ke kubur, tapi malang sekali jarang kamu mengambil pelajaran dari kejadian itu, bahawa apabila hari ini kita turut menghantar orang ke kubur, mungkin esok lusa kita sendiri akan dihantar orang.

Demikianlah sepuluh sebab doa seseorang tidak diperkenankan Allah menurut butir-butir hikmah Ibrahim bin Adham. Ini seharusnya mengetuk pintu hati setiap mukmin untuk membuat penilaian dan mengenal diri sendiri. Moga-moga Allah menjadikan kita orang-orang mukmin yang melaksanakan kewajipan-kewajipan kita dengan ikhlas dan yakin.

Monday, April 20, 2009

Kisah Masyitah dan Bayinya.

Fir’aun, raja zalim yang memerintah Mesir ribuan tahun lalu, mengaku dirinya Tuhan. Dia meminta setiap rakyatnya mengakui dan menyembahnya. Mereka yang ingkar dibunuh.

Seorang sahabat baiknya yang juga penjaga perbendaharaan negara, Hazaqil, tidak setuju Fir’aun mengakui dirinya Tuhan.

Pada suatu hari, ketika Fir’aun menjatuhkan hukuman mati ke atas 40 orang ahli sihir yang telah beriman kepada Allah, Hazaqil sangat tidak setuju.

Hazaqil menghadap Fir’aun dan membantah hukuman itu.

“Tuanku, patik tidak setuju dengan hukuman mati ke atas 40 ahli sihir itu. Walaupun mereka beriman kepada Allah, mereka sudah berjasa kepada negara kita ini,” Hazaqil mempertikaikan hukuman yang dijatuhkan oleh Fir’aun.

“Mereka dihukum mati kerana tidak mengakui beta sebagai Tuhan mereka!” tegas Fir’aun dengan nada marah, sambil menambah:

“Kalau kamu mempertahankan nasib ahli-ahli sihir itu, itu bermakna kamu juga seorang daripada mereka yang beriman kepada Allah.”

Fir’aun mula berfikir mengapa Hazaqil mempertahankan nasib 40 ahli sihir yang dihukum mati itu.

“Oleh kerana kamu salah seorang daripada mereka, beta jatuhkan hukuman mati ke atas kamu,” kata Fir’aun tanpa teragak-agak menjatuhkan hukuman mati ke atas sahabat yang juga pegawai kerajaannya itu.

Hazaqil dibawa keluar dari istana. Dia diikat pada sebatang pohon kurma. Dia kemudian dipanah pengawal Fir’aun sehingga mati.

Isteri Hazaqil, iaitu Siti Masyitah, yang bertugas sebagai pendandan puteri Fir’aun, berasa sangat sedih dan kecewa atas pembunuhan suaminya itu.

Dia semakin benci melihat wajah Fir’aun dan keimanannya kepada Allah semakin teguh.

Pada suatu pagi, ketika Siti Masyitah menyikat rambut puteri Firaun, dia teringatkan suaminya. Tumpuan kepada tugasnya hilang. Tiba-tiba sikat yang digunakan menyikat rambut puteri Fir’aun jatuh ke lantai.

“Allahu Akbar,” kata Siti Masyitah lalu mengambil sikat itu.

“Masitah, kamu akan dihukum kerana berkata begitu. Apakah ada Tuhan lain selain ayahandaku?” tanya puteri Fir’aun.

“Ya. Memang ada Tuhan yang patut disembah, bukan ayahanda tuan puteri,” kata Masyitah dengan tegas dan berani.

Puteri sangat marah, lalu mengadu hal itu kepada bapanya. Darah Fir’aun menyirap mendengar kata-kata anaknya. Dia lalu meminta Masyitah menghadapnya.

“Siapakah Tuhan kamu?” Tanya Fir’an dengan marah.

“Allah, itulah Tuhan saya,” jawab Masyitah dengan tegas.

“Biadab! Kamu akan dihukum sebab menghina beta,” tegas Fir’aun lalu memerintahkan pengawal memasak minyak dalam kuali yang sangat besar untuk dihumbankan Masyitah ke dalamnya.

“Dengar rakyat semua, inilah hukuman kepada orang yang tidak mengaku beta sebagai Tuhan.”

Fir’aun terus memandang Siti Masyitah. Dia berkata: “Beta beri satu peluang terakhir kepada kamu, adakah kamu mengaku beta sebagai Tuhan kamu?”

Siti Masyitah tidak peduli. Baginya, biarpun dia dihukum, keimanannya kepada Allah tidak akan berubah.

Tiba-tiba, anaknya yang masih bayi, dengan izin Allah, berkata:

“Wahai ibu, janganlah terpedaya dengan kata-kata syaitan yang dilaknat Allah. Kematian kita akan mendapat rahmat daripada Allah dan pintu syurga sentiasa terbuka menanti kedatangan kita.”

Siti Masyitah terkejut mendengarkan bayinya boleh berkata-kata. Dia bersyukur kepada Allah lantas dengan hati tabah, menuju ke kuali besar berisi minyak panas itu.

“Allahu Akbar!” teriak Siti Masyitah lalu terjun bersama dua orang anaknya ke dalam kuali itu.

Orang ramai yang hadir dan melihat kejadian itu berasa terkejut dan sedih melihat Siti Masyitah dan dua anaknya menjadi korban Fir’aun demi mempertahankan agama Allah.

Tiba-tiba mereka terhidu bau yang sangat harum keluar daripada kuali besar berisi minyak mendidih yang telah ‘memasak’ Masyitah dan anak-anaknya itu.

Sunday, April 19, 2009

Mencintai Dan Mengamalkan Sifat Malu

Orang yang mempunyai sifat malu dikatakan sebagai orang yang mencintai Allah. Kerana orang yang malu melakukan maksiat bererti dia malu kepada Allah. Bila dia malu kepada Allah bererti dia mencintai Allah.

Perlu kita ketahui bahawa malu itu ada dua macam:

Pertama, malu yang tumbuh sebagai pembawaan dan tabiat yang tidak melalui proses pembentukan. Ini merupakan satu dari bentuk-bentuk akhlak yang paling mulia yang dikurniakan Allah kepada hamba-hamba dan yang sengaja Ia ciptakan untuk hamba-hamba-Nya itu. Kerana itulah Rasulullah bersabda: "Malu itu tidak akan terwujud kecuali untuk kebaikan."

Malu dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan hina, mendorong untuk berbuat sesuai dengan ukuran-ukuran akhlak mulia. Dengan itu malu termasuk karakter keimanan.

Diriwayatkan dari Umar radhiAllahu `anhu yang berkata: "Barangsiapa yang malu maka ia akan menutupi diri, dan barangsiapa yang menutupi diri maka ia telah menjaga diri, dan barangsiapa menjaga diri maka ia mendapatkan perlindungan."

Sedangkan Al-Jarrah bin Abdullah al-Hukmy -- salah seorang pasukan berkuda dari Syam -- mengatakan: "Aku meninggalkan dosa-dosa itu empat puluh tahun kerana malu, baru kemudian muncul sikap warak kepada diriku." Selain dia juga ada mengatakan: "Aku melihat kemaksiatan itu sebagai keburukan, maka aku pun meninggalkannya kerana pertimbangan harga diri, dan kerananya terhindarlah nilai agama yang ada."

Kedua, yang melalui proses pembentukan kerana pengaruh bermakrifat kepada Allah. Maksud dari bermakrifat kepada Allah di sini adalah mengetahui keagungan-Nya, kedekatan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, daya jangkauan-Nya atas mereka, dan daya penglihatan-Nya terhadap apa yang tidak tertembus pandangan mata dan yang tersembunyi rapi di dalam dada. Inilah karakter keimanan yang tertinggi itu. Bahkan inilah darjat ihsan yang paling tinggi. Malu juga boleh terlahir dari bagaimana cara seseorang itu melihat nikmat-nikmat-Nya dan bagaimana pula ia lalai untuk mensyukuri-Nya.

Jika sahaja sikap malu ini terbuang maka setelah itu tidak ada lagi yang dapat merintangi keinginan dirinya untuk berbuat kejelekan dan kehinaan, yang pada akhirnya ia seakan-akan menjelma menjadi orang yang tanpa memiliki iman.

Malu tidak boleh disamakan dengan ketidakmampuan hati, yang jelas-jelas akan melahirkan sikap meremehkan hak-hak Allah mahupun hak-hak hamba-Nya. Sikap ini bukan malu yang dimaksud dalam pembahasan ini, namun ianya lebih merupakan sebuah kelemahan, cacat dan kehinaan.